PENGARUH PERGAULAN (SAHABAT KARIB CERMINAN DIRI)

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah  Azza Wajalla atas limpahan rahmat dan karunia kepada kita semua.  Sholawat dan salam  semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya.

Lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian, budi pekerti dan kefahaman agama seseorang, maka di dalam pergaulan supaya berhati-hati  jangan sampai salah memilih teman bergaul.  Bergaul dengan orang yang sholeh akan membantu kita dalam membentuk pribadi yang baik dan berakhlaqulkarimah, jika kita berbuat kesalahan  akan ada yang mengingatkan atau  paling tidak kita akan merasa malu untuk berbuat kejelekan/kesalahan karena berada di lingkungan orang yang sholeh.  Akan tetapi  jika bergaul dengan orang yang tidak sholeh, jangankan dinasehati jika salah, bahkan diajak menuju dan mengerjakan kemaksiatan.

Sabda Rasulullah saw. dalam Al-Hadits shoheh Al-Bukhari yang diriwayatkan dari Abi Musa: “Perumpamaan teman bergaul yang sholeh dan teman bergaul yang jelak adalah sebagaimana penjual minyak wangi dan ubupan (perapian) pande besi.  Penjual minyak wangi tidak akan melewati padamu, adakalanya kamu akan membeli minyak wangi itu darinya atau (paling tidak) kamu akan mendapatkan bau wanginya. Dan (sedangkan) pande besi akan membakar badanmu atau pakaianmu atau (paling tidak) akan kamu dapatkan bau sengitnya”.

Menentukan teman bergaul sangat penting, karena sebagian waktu kita berada di sisi teman pergaulan kita, sedangkan manusia ada kelemahan yaitu cenderung mengiukuti hawa nafsunya untuk berbuat pelanggaran (kemasiatan) dari pada mengikuti hal-hal yang baik. Bergaulah dengan orang –orang yang sholeh (faham agama),  karena  bergaul dengan orang sholeh sebagain waktu kita akan banyak disibukkan dengan hal-hal yang baik,  mengurangi waktu untuk “lahwun” (perbuatan yang sia-sia) dan melanggar norma agama/ norma susila, bahkan kalau ada kesempatan kita bisa belajar ilmu kepadanya.

Usahakan untuk selalu bergaul dengan ulama, orang yang sholeh, dan orang yang fakih dalam agama,  sebab setipis-tipisnya keimanan dan kefahaman seseorang jika teman bergaulnya orang-orang yang sholeh (fakih dalam agama), sedikit demi sedikit akan meningkat keimanannya dan kefahaman agamanya.

Sabda Rasulullah saw., dalam Hadits Sunan Abu Dawud yang diriwayatkan dari Abi Hurairah: “ Arrajulu ‘ala diini kholiilihi falyandhur ahadukum man yukhalilu” artinya: “  Seorang laki-laki itu menetapi kebiasaan teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat siapa yang menjadi teman dekatnya”

Hadits tersebut di atas dapat menjadi rujukan bagi orang tua dalam  mendidik anaknya, untuk mengetahui/ mengontral anaknya  apakah anaknya itu  berprilaku baik atau berprilaku tidak baik, dengan melihat teman dekat (karib)nya. Apabila anaknya bergaul dengan orang –orang yang tidak baik segera orang tuanya membatasi pergaulan anaknya dan mengarahkan supaya bergaul dengan orang-orang yang sholeh.

Dalam hal mencari pasangan hidup (jodoh),  Hadits ini dapat dijadikan rujukan, untuk mengetahui watak/perilaku, kefahaman agama dan kesholehan calon pasangan hidupnya, dapat dilihat dari teman dekatnya atau mencari informasi dari teman dekatnya, jangan sampai salah pilih, jangan menjadi penyesalan di kemuadian hari.  Orang berpacaran itu banyak melakukan  kamuflase(ecak-ecak), yang tadinya kasar dihadapan pacarnya seolah menjadi lembut hanya untuk menarik lawan jenisnya, yang tadinya pelit seolah-olah jadi orang yang dermawan karena mengharapkan simpati pacarnya.  Berumah tangga bukan untuk sehari – dua hari, diusahakan sampai akhir hayat kita masing-masing.

Nasehat Luqman kepada anaknya:” Wahai anakku temanilah duduk ulama’ dan desaklah mereka dengan kedua lututmu (selalu mendekat untuk meraih ilmu dari mereka) karena sesungguhnya Allah akan menghidupkan hati dengan cahaya hikmah (yang diperoleh dengan ilmu dari ulama’) sebagaimana Allah menghidupkan kembali bumi yang kering sebab turunnya hujan dari langit.”

Menyuruh anak agar mau dan senang  bergaul dengan orang yang sholeh bukannya gampang, karena hati  manusia akan cenderung berkumpul dengan hati yang sama sifat dan kelakuannya.

Oleh karena itu untuk memulai agar anak kita mau dan senang  bergaul dengan orang yang sholeh harus difahamkan agamanya, yaitu belajar agama, belajar ngaji ilmu Al-qur’an dan Al-Hadits, baik di masjid suarau, musholla maupun di rumah tangga- rumah tangga dengan mendatangkan guru ngaji (ustadz/ustadzah).

Perhatikan Sabda Rasulullah saw.: “ Al-arwaahu junuudun mujannadatun, famaa ta’aarofa minha’talafa, wamaa tanaakaro minha ikhtalafa” (HR. Bukhari) artinya:

“ Ruh-ruh (semua hamba)  bolo membolo (saling berkumpul)  ruh yang saling mengenal (karena kesamaan sifat) akan berkumpul dan ruh yang saling ingkar akan berselisih (berpisah)”.

Berdasarkan Hadits di atas kita tahu bahwa hamba yang berthobiat baik akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang baik, dan sebaliknya hamba yang berthobiat buruk akan berkumpul dan mendekat kepada hamba yang berthobiat buruk pula.  Hamba yang berthobiat baik tidak akan  bisa tenang berkumpul dengan hamba yang berthobiat buruk.

Mungkinkah orang yang faham agama akan tahan berkumpul bersama dengan orang-orang yang banyak berbuat maksiat, karena mereka adalah orang-orang bodoh agamanya!

Tentu ia akan merasa resah dan gelisah tatkala berada di tengah-tengah mereka, bagaikan sekor ikan yang dipaksa mentas dan hidup di luar kolamnya.

Siapakah teman kita?  Dialah yang akan menentukan siapa kita.

Menyadari akan hal ini, Shohabat Abu Tholhah sengaja minta kepada Rasulullah saw. agar anak tirinya yaitu  Anas bin Malik diizinkan menemani  dan melayani beliau hingga kurun waktu 10 tahun lamanya agar Anas di kemudian hari menjadi seorang yang ‘alim dan berkepribadian sebagaimana Rasulullah saw.

Begitu besar pengaruh pergaulan, semula orang yang faham agama sekalipun akan rusak/hilang kefahamannya apabila hidup dan bergaul di tengah orang yang suka berbuat maksiat, bahkan sedikit demi sedikit kefahamannya akan pudar.

Baik buruknya generasi yang akan datang tergantung dari generasi sekarang ini,  bagaimana menyikapi, mendidik anak bangsa ini menjadi yang lebih baik dengan menciptkan lingkungan (komunitas) yang baik.  Hal ini dapat dumulai dari unit yang paling kecil yaitu keluarga,  masing-masing kepala rumah tangga bertanggung jawab mendidik, mengarahkan pergaulan anak-anaknya kearah pergaulan yang baik. jika setiap rumah tangga sudah dapat mewujudkan pendidikan anak-anaknya menjadi anak yang baik, insya Allah generasi mendatang,  anak Indonesia jadi anak yang baik, sesuai dengan harapan Bangsa dan  orang tuanya.

Demikian uraian singkat tentang memilih teman bergaul, agar bisa mencari teman  orang yang baik,  sehingga menjadi anak yang baik budi pekertinya.  Alhamdulillah jaza kumullahu khoiran.  Amin.

Oleh:

Ir. Amat Sarjono

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII)

Kabupaten Lahat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: