MENCARI KEBAHAGIAAN (WHAT IS THE HAPPINESS?)

Puji Syukur kita panjatkan kehadirat Allah  Azza Wajalla atas limpahan rahmat dan karunia kepada kita semua.  Sholawat dan salam  semoga tercurah kepada Nabi besar Muhammad SAW, segenap keluarga dan sahabatnya.  Sebagai orang muslim kita harus memahami dan menyadari bahwa kita adalah manusia yang telah dipilih oleh Allah dijadikan sebagai orang yang beriman dan bertaqwa dijadikan waliyullah, dimulyakan hidup di dunia dan di akhirat, maka kemulyaan ini harus dipertahankan.

Setiap manusia mendambakan kebahagiaan hidup baik di dunia dan di akhirat kelak,  sekarang timbul pertanyaan apakah bahagia itu? (what is the happiness ?)  Sebagian orang berpendapat apabila telah terpenuhi kebutuhan materi, seperti rumah mewah, mobil mewah dan tabungan di bank banyak, baru akan merasakan kebahagiaan itu.  Apa betul dia hidup bahagia? Kalau dia sakit, atau terkena struk apa bisa menikmati kebahagiaan hidup?  Sebagian lagi ada yang berpendapat akan merasa bahagia kalau punya istri cantik? Akan bertahan lamakah kecantikan seorang wanita? Bagaimana kalau kita punya istri cantik, kalau ditinggal pergi kerja oleh suaminya sangat  menghawatirkan (punya sifat yang kurang terpuji) ? Atau membagi cinta dengan laki-laki lain? Yang pasti kebahagiaan itu akan terusik.

Ada beberapa hal yang menyebabkan kita hidup bahagia diantaranya:

  1. Material happiness, kita akan merasa bahagia kalau kebutuhan materi kita terpenuhi, akan  tetapi materi itu tidak dapat menjamin seratus persen kita hidup bahagia, kalau kita sakit, materi yang melimpah tidak dapat kita nikmati.
  2. Physical happiness, Walupun hidup kita sederhana, kalau diberi nikmat sehat kita bisamerasakan bahagia. Makan dengan lauk seadanya  kita masih bisa merasakan  nikmatnya anugerah dari  Allah tersebut.  Dalam Hadits Rasulullah saw., menjelaskan ;”Dua nikmat yang sering dilupakan oleh manusia adalah nikmat sehat dan nikmat sempat”. Oleh karena itu,  kita syukuri nikmat Allah tersebut,  dengan banyak menyempatkan diri untuk beribadah kepadaNya.
  3. Estetical happiness, Setiap manusia suka keindahan, senang punya suami ganteng/ macho, senang punya istri cantik, senang punya rumah bagus,   dilengkapi  dengan taman yang indah di sekelilingnya.  Bahkan seorang istri ingin  selalu tampil cantik dengan merias dirinya, dia malu keluar rumah kalau tidak berdandan/berhias, apa lagi kalau mau ke pasar mungkin menghadap cermin berkali-kali.  Keindahan/kecantikan  inipun belum cukup untuk menjamih hidup bahagia, karena kecantikan tidak akan bertahan lama. Keindahan dan kecantikan akan sempurna apabila dibarengi dengan;
  4. Moral happiness, suatu keluarga akan merasa bahagia apabila dalam keluarga tersebut mempunyai budi pekeri yang baik (akhlaqul karimah), lingkungannya orang yang baik, sesuai dengan yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam Al-Hadits;”Ada empat tanda kebahagian seseorang; 1.  Apabila istrinya sholihah. 2.  Anak-anaknya berbudi pekerti yang baik. 3. Pergaulanya juga orang-orang yang sholeh. 4.  rezkinya di dalam negerinya (cari ma’isyah tidak jauh dari rumahnya)
  5. Intelectual happiness, Manusia hidup dari kecil selalu mendapat pendidikan baik di rumah, di sekolah, di masjid (TPA),  lingkungan dll. Dalam  menghadapi ujian, baik ujian semester atau ujian Nasional, kita sibuk mempersiapkan agar kita dapat lulus mendapat nilai yang bagus.  Apabila kita lulus kita akan merasa bahagia.  Seperti yang dialami pada anak-anak kita yang baru lulus ujian Nasional, banyak yang meluapkan kebahagiaan dengan bermacam-macam cara. Tetapi luapan kabahagiaan itu tidak akan lama, karena  setelah itu akan kemana? Dalam kehidupan bermasyarakat apabila kita punya  ide/ gagasan bisa diterima di masyarakat, atau kita punya  hasil karya dapat dimanfaatkan (berguna) bagi orang lain kita merasakan kebahagiaan, karena kita punya andil dalam kehiduan  berbangsa dan bernegara. Dapat menetapi apa yang disabdakan Rasulullah dalam Al-Hadits;”Sebaik-baiknya manusia adalah orang yang memberikan manfaat bagi  orang lain”.
  6. Spiritual happiness, kebahagiaan yang hakiki adalah ada dalam hati sanubari oleh karena itu ukuran  kebahagiaan seseorang itu relative. Kebahagiaan melalui materi, fisik, kecantikan/keindahan  itu hanya sementara. Kebahagiaan yang sesungguhnya di akhirat nanti yaitu di surga.  Apabila kita ingin mendapatkan kebahagiaan hidup dunia dan akhirat,  menetapilah  agama yang haq yaitu agama Islam yang  berpedoman pada Al-Qur’an dan Al-Hadits,  dan  memperbanyak  doa : ROBBANA ATINA FIDUNYA HASANAH WA FIL-AKHIRATI HASANAH WAQINA ADZABANNAR

Menikah juga merupakan salah satu untuk mewujudkan  kebahagiaan. Untuk dapat menggapai kebahagiaan itu, maka nikah itu harus diniati ibadah,  bukan hanya semata-mata menyalurkan syahwatnya.  Rasulullah menganjurkan agar pernikahan itu barokah, mendapatkan ridho Allah  yaitu tertera dalam  Al-Hadits ;” Dinikahi  wanita itu karena empat; 1. Karena hartanya,

2. Karena keturunannya (nasabnya),

3.  Karena kecantikannya,

4.  Karena agamanya, maka pilihlah yang baik agamanya (berdasarkan agama), (HR. Abi Dawud)”.

1. Jika nikah berdasarkan harta (material happiness).

Ingat kehidupan manusia itu selalu berubah ubah, kita tidak tahu apakah kehidupan kita akan kaya terus, atau suatu ketika kita diuji oleh Allah dengan kemiskinan, hanya Allah yang tahu. Banyak rumah tangga berantakan karena jatuh miskin, dan banyak juga rumah tangga berantakan karena kekayaan.  Seorang suami karena merasa dirinya berkecukupan (kaya) akhirnya jarang pulang,  mencari kebahagian semu di luar rumah, pergi ke kafe, klub malam dll. Atau sang istri keturunan orang kaya, atau punya jabatan tinggi akhirnya kurang menghormati suaminya, suaminya  dianggap  sebagai pembantu rumah tangga,  seperti ini juga tidak bahagia.

2.  Jika nikah berdasarkan kecantikan (estetical happiness, physical happiness)

Tidak selamanya manusia atu akan sehat terus, muda terus, kuat terus, pasti akan mengalami tua dan lemah, demikian juga dengan kecantikan seseorang,  tidak akan bertahan lama, sampai umur 40 tahun sudah mulai mengendur.

3.   Jika nikah berdasarkan keturunan/ nasabnya (moral happiness, intellectual happiness)

Tingkatan ini lebih baik dibandingkan dengan sebelumnya, karena kita bisa mewarisi gen budi pekerti yang baik (akhlaqul karimah)  dan  gen  kecerdasan, sehingga keturunannya jadi anak yang cerdas.

4.   Nikah berdasarkan agamanya (spiritual happiness)

Apabila kita nikah berdasarkan agamanya maka kita akan mendapatkan kesemuanya. Dengan menetapi agama Islam yang haq ini kita akan mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan di akhirat kelak.  Kebahagian dunia hanya sementara, akan tetapi kebahagian akhirat (di surga)  itu lebih kekal. Sesuai dengan sabda Rasulullah;” Sungguh beruntung (bahagia) orang yang diberi petunjuk (hidayah) agama Islam, dan diberi rezki yang cukup dan mau menerima (qonaah) dengan rezeki tersebut” (HR. Ibnu Majah)

Orang yang telah diberi hidayah Agama Islam itu ibaratnya seperti orang yang  diberi tiket untuk ke surga.  Apakah orang tersebut dapat menjaga/mempertahankan tiket tersebut sampai akhir hayatnya?  Perlu disadari bahwa semua harta benda yang kita miliki itu adalah titipan/amanah dari Allah, supaya kita bisa menjaga dan menggunakannya sesaui dengan haknya.

Dalam Hadits Rasulullah menelaskan bahwa;  “Harta yang kita miliki itu ada tiga; 1.  Makanan yang telah kita makan sampai jadi kotoran, 2. Pakaian yang kita pakai sampai rusak,  3. Harta yang kita sodaqohkan di jalan Allah.(akan kita jumpai di akhirat nanti)”.

Rumah, mobil, kebun dan tabungan di bank,  itu belum tentu punya kita,  karena kalau kita mati, itu semua akan ditinggal, bahkan istri kita yang cantikpun kita tinggalkan,  dan bila  masih muda dia akan mencari suami lagi, apalagi warisannya banyak (wah enak tuh suami baru ).  Oleh karena itu kami ingatkan bagi kaum muslimin jangan sampai kaya di dunia, tetapi  miskin di akhirat, karena amal jariahnya sedikit.  Marilah kita berlomba membela agama Allah dengan banyak menanam amal jariah, dengan membangun/ memperbaiki  masjid, musholla, madrasah, pondok-pondok pesantren dan ibadah lainya.

Demikian uraian singkat ini, apabila ada kekhilafan saya mohon maaf dan kami mohon ampun kepada Allah.  Alhamdulillah jaza kumullahu khoira. Amin.

Penulis:

Ir. Amat Sarjono

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kab. Lahat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: